Tari Bedhaya Yogyakarta : Tari Tradisional Yogyakarta yang Mempunyai Makna Simbolik Filosofis Yang Tinggi



Tari Bedhaya Yogyakarta
Tari Bedhaya merupakan tari klasik yang sangat tua usianya dan merupakan kesenian asli Jawa.  
Tari Bedhaya yang tertua adalah Bedhaya Semang yang diciptakan oleh Hamengku Buwono I pada tahun 1759, dengan cerita perkawinan Sultan Agung dari Mataram dengan Ratu Kidul yang berkuasa di samudera Indonesia.

Sebagai sebuah genre tari, spesifikasi Bedhaya antara lain :
1.     Penari putri yang pada umumnya berjumlah sembilan dan mempergunakan rias busana yang serba kembar.
2.     Bedhaya sebagai salah satu genre tari Jawa, telah dijadikan sumber referensi dalam penyusunan
3.     Tari Bedhaya memiliki muatan makna simbolik dan filosofis yang tinggi dan dalam, sehingga menjadi contoh yang paling tepat bagi cara penerapan konsep alus-kasar dalam tari Jawa.

Bangsal Kencono : Rumah Adat Yogyakarta Sebagai Poros Utama Identitas Budaya Masyarakat Yogyakarta




Bangsal Kencono

Bangsal Kencono merupakan sebuah bangunan Pendopo. Halamannya sangat luas, yakni lebih dari 14.000 m2. Di depannya terdapat patung dua raksasa yang memegang gada.

Bangsal Kencono dibangun oleh Sultan Hamengku Buwono I pada tahun 1756 M. Bangsal Kencono digunakan untuk acara-acara kesultanan dan keagamaan,  misalnya Jumenengan (peringatan sultan naik tahta), Ngabektan (dilakukan pada hari raya Idul Fitri)

Pakaian Adat Yogyakarta: Jenis-Jenis, Makna dan Filosofi Pakaian Adat Yogyakarta



pakaian adat yogyakarta

Pakaian adat Yogyakarta adalah pakaian yang digunakan secara turun temurun oleh masyarakat Yogyakarta. Memakai bahan katun, bahan sutera, kain sunduri (brocade), nilon, lurik, atau bahan-bahan estetis. Teknik pembuatannya ada yang ditenun, dirajut, dibatik, dan dicelup.

Selayaknya pakaian adat, penggunaan pakaian adat Yogyakarta sudah dibakukan secara adat, kapan dikenakan, dimana dikenakan, dan siapa yang mengenakannya. Sehingga bagi yang memakainya menunjukkan sikap yang teratur dan terkendali  namun tetap menunjukkan kewibawaan dan keanggunannya.

Pakaian Adat Jawa Tengah, Mempunyai Fungsi Praktis, Estetis, Religius, Sosial dan Simbolik

pakaian adat jawa tengah

Masyarakat Jawa Tengah memiliki kebiasaan untuk menggunakan baju adat daerah tidak hanya pada acara-acara tertentu saja tetapi pada kehidupan sehari-hari. Pada masyarakat di Jawa Tengah, khususnya di Surakarta fungsi pakaian cukup beragam, seperti pada masyarakat bangsawan pakaian mempunyai fungsi praktis, estetis, religius, sosial dan simbolik.
Tari Gatot Kaca Gandrung dari Jawa Tengah menceritakan kesatria Gatot Kaca yang sedang dilanda asmara. Sesuai hal itu, tema tarian ini adalah kisah cinta seorang katria yang sangat terkenal dalam cerita mahabarata.
Tari Gatot Kaca Gandrung

Kata gandrung dapat diartikan ‘cinta’, ‘tertarik’, atau ‘terpesona', Tarian ini menggambarkan tingkah laku Gatotkaca tatkala berangan-angan ingin mempersunting seorang putri menjadi istrinya. Kadangkala untuk lebih memberi hidup pada tarian ini ditunjukkan pula tokoh Pregiwa sebagai bayangan atau ilusi.

Tari Sintren, Tari Tradisional Jawa Tengah Yang Terkenal Dengan Unsur Mistisnya



Lukisan Penari Sintren

Tari Sintren merupakan salah satu tarian tradisional yang berasal dari pesisir utara pantai Jawa Tengah dan Jawa Barat. Tari Sintren tersebar di beberapa tempat di Jawa Tengah dan Jawa Barat seperti di Cirebon, Majalengka, Indramayu, Brebes, Pemalang, Pekalongan dan Banyumas.

Rumah Joglo, Rumah Tradisional Jawa Tengah Yang Unik


rumah adat joglo

A.  Sekilas Tentang Rumah Joglo
Joglo sebagai rumah tradisional dikenal memiliki desain yang tidak sembarangan.  Rumah joglo merupakan rumah adat Jawa Tengah yang dibangun berlandaskan keyakinan atau filosofi Jawa.