Pakaian Adat Suku Sasak dan Suku Bima

pakaian adat nusa tenggara barat


ProvinsiNusa Tenggara Barat terdiri atas dua pulau besar, yaitu pulau Lombok dan pulau Sumbawa.

Suku mayoritas yang mendiami pulau Lombok adalah suku Sasak, sedangkan suku mayoritas di pulau Sumbawa adalah suku Bima

Oleh karena itu pakaian adat Nusa Tenggara Barat diwakili oleh pakaian adat kedua suku tersebut.

Meskipun terdiri dari 2 kebudayaan yang dominan, di kancah Nasional, kebudayaan suku Sasak merupakan kebudayaan yang sering dikedepankan.

Hal tersebut mengingat secara keseluruhan, suku sasak merupakan suku mayoritas di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dengan total sebesar 68% dari total populasinya.

Sebagian besar pakaian adat suku Sasak berasal dari kain tenun.

Hal ini dikarenakan masyarakat Sasak sudah mengenal teknik menenun sejak abad ke-14.

Corak hias pada kain tenun pada umumnya merupakan eksplorasi dari kehidupan alam sekitar dan mitologi.

Seperti pohon mawar, burung, ular naga, dan tokoh pewayangan.

Corak hias pada kain untuk perempuan berbeda dengan ragam hias pada kain untuk laki-laki.
pakaian adat suku sasak

a.   Pakaian Adat Wanita Suku Sasak
Pakaian adat wanita suku sasak disebut lambung. Disebut baju lambung, karena bagian bawahnya hanya sampai lambung atau perut.

Baju ini memang menggantung dan sedikit mengembang di bagian perut. Karena bagian tengahnya dikerutkan sampai ke ujung tepian leher.

Lambung adalah baju hitam tanpa lengan dengan kerah berbentuk segitiga atau hurup “V” dan sedikit hiasan di bagian pinggir baju.

Pakaian ini menggunakan bahan kain pelung.

Sebagai pelengkap lambung, dikenakan selendang yang menjuntai di bahu kanan bercorak ragi genep yang merupakan jenis kain songket khas sasak

Dipadukan dengan sabuk anteng (ikat pinggang) yang dililitkan dan bagian ujungnya yang berumbai dijuntaikan di pinggang sebelah kiri.

Pada bagian bawahannya memakai kain panjang sampai lutut atau mata kaki dengan bordiran di tepi kain dengan motif kotak-kotak atau segitiga.

Sebagai aksesoris ditambahkan sepasang gelang pada tangan dan kaki berbahan perak.

Sowang (anting-anting) berbentuk bulat terbuat dari daun lontar.

Rambut diikat rapi dan sebagai aksen diselipkan bunga cempaka dan mawar, atau bisa juga disanggul dengan model punjung pliset.

Pakaian adat lambung digunakan gadis-gadis Sasak khusus untuk menyambut tamu dan pembawa woh-wohan dalam upacara mendakin atau nyongkol.


b.   Pakaian Adat Pria Suku Sasak
Pakaian adat pria suku sasak disebut pegon. Pegon dipengaruhi oleh tradisi Jawa dengan adaptasi dari jas eropa sebagai lambang keagungan dan kesopanan.

Bahan yang digunakan berwarna polos dengan modifikasi dibagian belakang agar mudah menyelipkan keris.

Untuk bagian kepala, pria sasak yang menggunakan pakaian adat sasak biasanya akan mengenakan Sapuq/Sapuk (batik, pelung, songket)

Sapuk merupakan mahkota bagi pemakainya sebagai tanda kejantanan serta menjaga pemikiran dari hal-hal yang kotor dan sebagai lambang penghormatan kepada Tuhan yang Maha Esa.

Jenis dan cara penggunaan sapuq pada pakaian adat sasak tidak dibenarkan meniru cara penggunaan sapuq untuk ritual agama lain.

Untuk ikat pinggang (leang/tampet atau dodot), menggunakan kain songket bermotif benang mas sebagai pasangan pegon.

Pemakaiannya tidak seperti ikat pinggang melainkan lebih berfungsi sebagai aksen, sekilas mirip busana tradisional melayu.

Untuk masyarakat biasa, kain songket yang digunakan bermotif ragi genep, penggunaannya dililitkan biasa seperti ikat pinggang pada umumnya.

Leang atau tampet atau dodot ini berfungsi untuk menyelipkan keris.

Untuk keris yang berukuran besar, biasanya diselipkan di belakang.

Sedangkan untuk keris yang berukuran kecil diselipkan di depan.

Penggunaan keris tidak mutlak, keris bisa diganti dengan pemaja atau pisau raut.

Sebagai bawahan, pria Sasak menggunakan wiron atau cute.

Wiron berbahan batik Jawa dengan motif tulang nangka atau kain pelung hitam.

Penggunaannya seperti kain di Jawa atau samping di Sunda yang menjuntai hingga mata kaki.

Untuk penggunaan wiron, tidak diperkenankan menggunakan kain polos berwarna merah atau putih.

Sebagai pembeda antara masyarakat biasa dengan pemangku adat, pemangku adat menggunakan Selendang Umbak.

Selendang Umbak berbentuk sabuk yang dibuat dengan ritual khusus dalam keluarga sasak.

Warna kain umbak putih merah dan hitam dengan panjang sampai dengan empat meter.

Di ujung benang digantungkan uang cina (kepeng bolong).

Selain perlengkapan busana adat Sasak diatas, khusus untuk pemangku adat digunakan pula Selendang Umbak.

Umbak sebagai pakaian adat hanya digunkan oleh para pemangku adat, pengayom masyarakat. Umbak untuk busana sebagai lambang kasih sayang dan kebijakan.


c.   Pakaian Pengantin Suku Sasak
Untuk pakaian pengantin, digunakan pakaian yang lebih banyak hiasannya.
pakaian pengantin suku sasak

Pengantin wanita memakai tangkong (baju) semacam kebaya yang biasanya berwarna hitam polos, tetapi kadang diberi hiasan pinggiran bajunya.

Untuk bagian bawah dikenakan kereng (kain panjang), yang umumnya dibuat dari kain songket.

Sebagai pelengkap penampilan digunakan kancing baju (buak tongkong) emas, kalung emas, ikat pinggang (gendit/ pending) emas, gelang tangan (teken), cincin (ali-ali), dan gelang kaki (teken nae).

Pengantin pria mengenakan klambi yang bahannya sama dengan pengantin wanita.

Bagian atas berupa jas tertutup dengan potongan agak meruncing pada bagian bawah belakangnya untuk mempermudah menyelipkan keris.

Bagian bawah menggunakan kereng (kain panjang), yang terbuat dari kain songket yang bermotif khas Lombok.
Kemudian ditambah dodot (kampuh), kain yang biasanya bercorak sama dengan yang dipakai pengantin wanita.

Bagian kepala memakai sapu (ikat kepala atau destar) yang juga terbuat dari kain songket dan sering diberi hiasan keemasan yang sering diselipkan pada ikat sapu bagian depan.

Dibagian punggung diselipkan keris panjang.


2.   Pakaian Adat Suku Bima
Suku Bima atau Dou Mbojo adalah suku yang terdapat di Kota Bima dan Kabupaten Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Suku Bima bermukim di daerah dataran rendah, yang berada dalam wilayah kabupaten Bima, Dongo dan Sangiang.

Kondisi alam pemukiman suku Bima berbeda-beda, di daerah utara tanahnya sangat subur, sedangkan sebelah selatan tanahnya gundul dan tidak subur.

Masyarakat suku Bima kebanyakan bermukim dekat pesisir pantai.

Suku Bima kadang disebut juga sebagai suku "Oma" (berpindah-pindah) karena kebiasaan hidup mereka yang berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain.

pakaian adat suku bima

Pakaian adat wanita suku Bima disebut dengan Rimpu Cala. Rimpu Cala adalah pakaian semacam hijab yang terdiri dari 2 kain sarung.

Sarung pertama untuk menutupi bagian kepala dan lengan, lalu kain yang satu lagi digunakan sebagai rok.

Selain Rimpu Cala, ada juga Rimpu Mpida. Rimpu Mpida biasanya digunakan oleh wanita yang belum menikah.

Rimpu Mpida menutupi badan hingga hanya menyisakan mata layaknya menggunakan cadar.

Rimpu Cala dan Rimpu Mpida merupakan bukti bahwa pengaruh kebudayaan agama islam di masyarakat suku Bima sangatlah kuat.

  
b.   Pakaian Adat Pria Suku Bima
Pakaian adat pria suku Bima berupa kemeja berlengan panjang dan mengenakan sambolo dibagian kepala. Sambolo merupakan ikat kepala.

Pada bagian bagian bawah, menggunakan kain songket bernama tembe me'e.

Sebagai pelengkap digunakan pula salepe atau selendang yang berfungsi sebagai ikat pinggang.


c.   Pakaian Pengantin Suku Bima
Pakaian pengantin suku Bima berbeda dengan pakaian adatnya.
pakaian pengantin suku bima

Mempelai wanita memakai bjau poro rante yang terbuat dari kain halus warna merah dan dihiasi dengan cepa benang emas diseluruh permukaan baju.

Kemudian baju tersebut dipadu dengan sarung songket (tembe songke) dan ikat pinggang (slepe) yang berwarna keemasan.

Pasapu (sapu tangan) dari kain sutra bersulam benang perak dipegang di tangan kanan.

Rambutnya disanggul dan dihiasi dengan keraba.

Keraba yang terbuat dari gabah (bulir padi yang belum dikupas kulitnya) yang digoreng tanpa minyak hingga mekar dan tampak warna putih berasnya secara dominan.

Keraba tersebut ditempel pada rambut dengan perekat malam atau lilin hingga warna putihnya mencolok di atas rambut.

Tatanan rambut yang dihiasi keraba tersebut disebut wange.

Aksesoris lain seperti bangka dondo (anting-anting panjang) dan ponto (gelang tangan) juga berwarna keemasan.

Sementara itu, mempelai laki-laki mengenakan pasagi, yaitu baju dan celana yang terbuat dari kain yang sama.

Kain tersebut dihiasi dengan cepa dan sulaman benang emas.

Siki (kain songket atau tembe songke) dikenakan sebatas lutut, seperti memakai sarung.

Untuk menakar siki digunakan baba, yaitu kain yang berukuran lebih lebar dari ikat pinggang biasa.

Baba berfungsi untuk menyelipkan keris. Di atas baba diselipkan selepe mone, yaitu ikat pinggang yang terbuat dari logam keemasan.

Sebuah keris, yang pada hulunya diikatkan pada baba.

Pakaian pengantin pria ini juga dilengkapi dengan karoro, yaitu semacam jubah hitam yang berhais cepa berwarna keemasan dan mahkota yang disebut siga.



Tari Legong : Tari Klasik yang Luwes, Lentur, Dengan Gerakan Dinamis

tari legong

TariLegong adalah kesenian Tari klasik Bali mulanya berkembang di Desa Peliatan, perkampungan seni terkenal di Ubud, Kabupaten Gianyar.

Tari Legong awalnya dipentaskan untuk menghibur raja dan para  keluarganya.

Tari Legong merupakan tarian klasik Bali yang memiliki gerak yang sangat kompleks yang terikat dengan suara  tabuh pengiring yang merupakan pengaruh dari Gambuh.

Asal Kata Legong berasal dari kata "leg" yang berarti luwes dan lentur yang kemudian diartikan sebagai gerakan lemah gemulai .

Sedangkan kata "gong" yang artinya gamelan, sehingga digabung menjadi "Legong" yang artinya  gerakan yang sangat terikat atau dipengaruhi oleh tabuhan gamelan yang mengiringinya.

Tari Legong selain sebagai dasar tari putri juga primadona dari berbagai jenis tarian Bali.

Tari klasik Legong yang  luwes, lentur dengan gerak dinamis dibawakan oleh sejumlah penari wanita .

Tari Legong ini adakalanya dibawakan oleh dua orang gadis atau lebih dengan diawali penampilan tokoh Condong sebagai pembukaan Tari Legong ini.

Tetapi ada juga tari Legong hanya dibawakan oleh satu penari Legong atau dua pasang penari legong tanpa menampilkan tokoh Condong terlebih dahulu.

Ciri khas dari tari Legong  adalah pemakaian kipas para penarinya kecuali tokoh Condong.


A.  Sejarah dan Perkembangan Tari Legong
Cerita tentang Tari Legong tercatat pada Babad Dalem Sukawati yang ditulis sekitar awal abad ke 19.

Pada saat itu wilayah Sukawati, Gianyar, memang termasyur sebagai daerah tempat penari-penari handal.

Menurut babad,  I Dewa Agung Made Karna yang terkenal memiliki kemampuan spiritual, melakukan pertapaan di  Pura Yogan Agung desa Ketewel, Sukawati.

Pada saat bertapa itulah beliau mendapatkan wangsit berupa  beberapa sosok bidadari-bidadari yang cantik melayang di angkasa,dengan memperagakan suatu tarian yang sangat menakjubkan.

Maka setelah bangun dari tapanya, ia memerintahkan para seniman di desa ketewel untuk membuat beberapa topeng  dan  menciptakan tarian sesuai dengan  penglihatan dari pertapaannya .

Kemudian, terciptalah sembilan buah topeng sebagai wujud sembilan orang bidadari dalam mitologi agama Hindu.

Lalu dua orang penari Sanghyang diperintahkan untuk menari tarian tersebut.

Penari Sanghyang adalah penari-penari putri muda yang terpilih bukan hanya karena bakat, tapi juga peka untuk kerauhan , dan belum pernah menstruasi. Sang Hyang Legong adalah nama Tari topeng yang dipertunjukkan oleh kedua penari itu.

Tarian Legong ini dengan topeng aslinya sampai saat ini masih dipentaskan di Pura Yogan Agung pada upacara Piodalan dilaksanakan pada setiap 210 hari sekali di pura Yogan Agung .

Tari Sanghyang Legong, itu menjadi inspirasi sebuah kelompok tari dari desa Blahbatuh yang dipimpin I Gusti Ngurah Jelantik untuk menciptakan sebuah tarian baru dalam gaya  serupa.

Tapi berbedanya, dimana penarinya adalah pria dan tidak memakai topeng. Tarian ini dinamakan Nandir.

Inilah awal mulanya tercipta tari legong yang sekarang kita kenal berawal , yaitu pada saat Raja Sukawati terkesan menyaksikan pertunjukan tarian Nandir,dan kemudian memerintahkan para seniman di Sukawati untuk menciptakan tarian serupa bagi para gadis muda di istananya.

Ada tiga Gaya tari Legong yang terkenal di Bali yaitu tari legong aliran Peliatan, tari legong aliran Saba dan tari legong aliran Badung.

Diantara ketiga jenis aliran tari Legong itu , hanya  gaya Peliatan yang aktif dalam melakukan pementasan Tari Legong sebagai tari tontonan bagi para turis.

Sejak abad ke-19 tampak ada pergeseran: Legong berpindah dari istana ke desa. Wanita-wanita yang pernah mengalami latihan di istana kembali ke desa dan mengajarkan tari Legong kepada generasi berikutnya. 

Banyak sakeha (kelompok) Legong terbentuk, khususnya di daerah Gianyar dan Badung.

Guru-guru tari Legong juga banyak bermunculan, khususnya dari desa Saba, Bedulu, Peliatan, Klandis, dan Sukawati. 

Murid-murid didatangkan dari seluruh Bali untuk mempelajari tari Legong, kemudian mengembangkannya kembali ke desa-desa. 

Legong menjadi bagian utama setiap upacara odalan di desa-desa.

Dalam perkembangan selanjutnya, tari Legong bukan lagi merupakan kesenian istana, melainkan menjadi milik masyarakat umum. 

Pengaruh istana makin lama makin melemah sejak jatuhnya Bali ke tangan Belanda pada 1906-1908 M.

Di desa, kini Legong dipergelarkan jika diperlukan untuk kepentingan upacara keagamaan. Leluhurnya, Sang Hyang, dipentaskan berhubungan dengan kepercayaan animisme. 

Adapun nenek moyangnya yang lain, yaitu Gambuh mengungkapkan artikulasi idea dari Majapahit.

Pada mulanya Legong juga berhubungan dengan agama Hindu istana yang tinggi nilainya, namun kini berhubungan dengan agama Hindu Dharma yang lebih bersifat sekuler.

Tari Legong masih ditarikan oleh anak gadis dari desa tertentu pada sebuah kalangan yang sudah diupacarai sehubungan dengan upacara keagamaan.

Kalangan sering-sering dibuat di luar halaman tempat persembahyangan walaupun masih diorientasikan dengan dua arah kaja dan kelod sebagai arah yang angker dalam kepercayaan orang-orang Bali. 

Yang paling pokok adalah Legong dipersembahkan sebagai hiburan bagi masyarakat yang berpartisipasi dalam upacara keagamaan.


B.  Jenis-Jenis Tari Legong
1.   Legong Kuntul
Legong Kuntul termasuk dalam jenis Legong non-dramatik yang menggambarkan keanggunan burung bangau di tengah sawah.

Setelah lama tidak ditarikan, pada tahun 70-an, tarian ini direka kembali berdasarkan ingatan oleh ibu Reneng dan Anak Agung Raka Saba.

Melodi dan gerakan yang sangat khas memperindah keseluruhan tarian yang sangat klasik ini.

2.   Legong Lasem (Kraton)
Legong ini yang paling populer dan kerap ditampilkan dalam pertunjukan wisata.

Tari ini dikembangkan di Peliatan. Tarian yang baku ditarikan oleh dua orang legong dan seorang condong.

Condong tampil pertama kali, lalu menyusul dua legong yang menarikan legong lasem.

Repertoar dengan tiga penari dikenal sebagai Legong Kraton.

Tari ini mengambil dasar dari cabang cerita Panji (abad ke-12 dan ke-13, masa Kerajaan Kadiri), yaitu tentang keinginan raja (adipati) Lasem (sekarang masuk Kabupaten Rembang) untuk meminang Rangkesari, putri Kerajaan Daha (Kadiri)

Namun ia berbuat tidak terpuji dengan menculiknya. Sang putri menolak pinangan sang adipati karena ia telah terikat oleh Raden Panji dari Kahuripan.

Mengetahui adiknya diculik, raja Kadiri, yang merupakan abang dari sang putri Rangkesari, menyatakan perang dan berangkat ke Lasem.

Sebelum berperang, adipati Lasem harus menghadapi serangan burung garuda pembawa maut. Ia berhasil melarikan diri tetapi kemudian tewas dalam pertempuran melawan raja Daha.

3.   Legong Jobog
Kisah yang diambil adalah dari cuplikan Ramayana, tentang persaingan dua bersaudara Sugriwa dan Subali (Kuntir dan Jobog) yang memperebutkan ajimat dari ayahnya.

Karena ajimat itu dibuang ke danau ajaib, keduanya bertarung hingga masuk ke dalam danau. Tanpa disadari, keduanya beralih menjadi kera., dan pertempuran tidak ada hasilnya.

4.   Legong Legod Bawa
Tari ini mengambil kisah persaingan Dewa Brahma dan Dewa Wisnu  dalam membanggakan kekuatan masing-masing.

Percakapan mereka pun didengar oleh dewa Siwa. Dewa Siwa menjadi penengah bagi mereka berdua dengan cara berubah menjadi lingga sembari mengajukan syarat barang siapa yang mampu menemukan ujung lingga tersebut, maka ialah yang lebih sakti.

5.   Legong Palayon
Menceritakan kehidupan masa kanak-kanak yang dalam kesehariannya suka bermain, seperti bermain gamelan yang penuh ekspresi dan tanpa beban , selalu ceria dan gembira dalam melakukan aktifitasnya.


6.   Legong Candrakanta
Tari ini mengisahkan pertemuan antara bulan dan matahari sehingga terjadi gerghana bulan yang mengakibatkan dunia menjadi gelap.

Setelah masyarakat menghaturkan sesajen, memukul kentongan , serta melantunkan puji-pujian, maka Bulan bersinar kembali seperti sedia kala.

7.   Legong Kupu-Kupu Tarum
Tari Kupu-kupu ini menggambarkan ketentraman dan kedamaian hidup sekelompok kupu-kupu yang dengan riangnya berpindah dari satu dahan ke dahan yang lain.

Tarian ini merupakan tarian putri masal yang diciptakan oleh I Wayan Beratha pada tahun 1960-an.

8.   Legong Kuntir
Disebuah goa dekat gunung himawa, hidup seorang raksasa yang sangat sakti bernama Mahesa Sora.

Yakin akan kesaktiannya ini maka timbul niatnya untuk menyerang keindraan, dengan dalah melamar Dewi Tara putri Dewa Indra.

Dewa Indra yang sudah tentunya tidak setuju atas lamaran raksasa ini, menolak akibatnya terjadi perang antara pihak Mahesa Sora dan pihak keindraan.

Merasa Hyang Indra akan kalah, cepat-cepat ia atas petunjuk pendeta Briaspati minta bantuan Subali dan Sugriwa yang diam di gunung Semi, dengan perjanjian bahwa yang dapat mengalahkan Mahesa Sora akan mendapatkan hadiah Dewi Tara sebagai istri.

Subali, Sugriwa menyanggupi dan segera berangkat keindraan melawan Mahesa Sora.

Mahesa Sora yang merasa tidak mampu menghadapi lawannya, segera lari meninggalkan keindraan, bersembunyi di dalam goanya.

Subali, Sugriwa mengejarnya dan Subali masuk kedalam goa, sebelum memasuki goa, dipesankannya kepada adiknya, bahwa jika nanti ada darah merah yang keluar dari goa maka yang mati adalah Mahesa Sora. 

Dan jika darah putih yang mati adalah Subali sendiri. Dan jika yang keluar darah merah dan putih yang keluar itu berarti kedua-duanya telah tewas maka Sugriwa harus cepat-cepat menutup pintu goa.

Demikianlah akhirnya didalam goa Subali berhasil membunuh raksasa itu dengan memecahkan kepalanya sehingga darah dan otaknya berhamburan keluar yang oleh Sugriwa dikira darah merah dan putih.

Segera pintu goa ditutupnya dan pergi ke indra loka untuk mempersunting Dewi Tara.

Tatkala Sugriwa sedang bermesra mesraan di sebuah taman tiba-tiba datanglah Subali yang telah berhasil keluar dari goa dengan jalan menjebol pintu goa.

Terjadi pertengkaran akibat salah pengertian yang kemudian memuncak menjadi suatu pertempuran sengit.

Sugriwa kalah dan Dewi Tara diambil oleh Subali, dalam kesedihan Sugriwa mengutus Hanuman untuk minta bantuan Sang Rama.

Akhirnya atas bantuan Sang Rama, Subali berhasil dikalahkan dan Sugriwa mendapatkan kembali Dewi Tara



C.  Fungsi Tari Legong
Adapun fungsi tari legong sebagai berikut :
1.   Sebagai sarana untuk pertunjukan dan hiburan
2.   Sebagai ungkapan keindahan ataupun aktivitas keindahan itu sendiri
3.   Sebagai aktivitas kreaktif
4.   Untuk mengikaat rasa persatuan


D.  Alat Musik Pengiring Tari Legong
Tari Legong diiringi oleh tetabuhan gamelan Bali, yang dinamakan Gamelan Semar Pagulingan.

Bunyi instrumen-instrumen yang disajikan gamelan harus diikuti sesuai dengan pakem kesesuaian penarinya sesuai dengan penguasaan jalinan wirama, wiraga, dan wirasa yang baik


E.  Properti Tari Legong
Properti tari Legong adalah sebuah kipas. Kipas menjadi properti penting yang dapat menambah nilai estetis dalam setiap gerakan yang dipertunjukan oleh penari tarian khas Bali ini.


F.   Tata Busana Tari Legong
Busana khas legong yang berwarna cerah (merah, hijau, ungu) dengan lukisan daun-daun dan hiasan bunga-bunga emas di kepala yang bergoyang mengikuti setiap gerakan dan getaran bahu penari disederhanakan dengan dominasi warna hitam-putih.

Pada masa lalu busana Tari Legong terkesan cukup sederhana, namun seiring muncul dan berkembangnya tata rias modern kesenian khas dari Gianyar Bali ini juga mendapatkan perubahan dari segi kostumnya.

Adapun kostum yang dikenakan guna menunjukan ciri khas dari tarian legong sebagai berikut :
1.   Kemen dan Baju
Untuk menutup bagian atas penari legong menggunakan kemen dan baju lengan panjang dan identik berwarna mencolok (merah, kuning, hijau, dan lain sebagainya).

Kemen dan baju sekilas terlihat seperti kebaya di daerah Jawa dan memiliki hiasan serta corak khusus.

Jika kita melihat beberapa jenis tari legong yang ada saat ini maka kita akan mendapati perbedaan yang tidak terlalu signifikan antara baju yang dikenakan.

2.   Songket dan Stagen
Kain songket memiliki corak dan warna khusus yang identik dengan kemewahan serta keindahan.

Pada pertunjukan tari legong songket dikenakan oleh para penari dengan cara dililitkan mengelilingi pinggul.

Untuk mendukung kekuatan kain songket berikutnya terdapat Stagen semacam sabuk sebagai pengikat kain songket dengan tubuh penari hingga menutupi bagian dada.

Dengan demikian para penari akan lebih bebas dan leluasa bergerak tanpa takut songket yang dililitkan pada pinggulnya terjatuh.

Stagen sendiri biasanya berwarna mencolok seperti merah maupun pink agar terlihat menarik dikenakan berseram antara satu penari dengan penari lain.

3.   Badong dan Tutup Dada
Pada bagian atas sebagai hiasan para penari mengenakan Badong yakni sebuah perhiasan yang terbuat dari kulit hewan dan dikenakan melingkar di leher sehingga menutupi bahu sang penari.

Sementara itu penutup dada dikenakan dengan tujuan hiasan sekaligus memperkuat pakaian yang dikenakan oleh para penarinya.

Selain ketiga tata busana utama di atas tari legong masih memiliki pernik guna mendukung busana yang dikenakan.

Pernak pernik seperti gelang atas dan bawah serta gelungan sebagai hiasan kepala akan menambah keunikan dan keindahan tari legong.

Namun demikian tata busana Tari Legong di atas merupakan ciri dari tari legong jobog. Pada jenis legong lain mungkin saja busana dan tata riasnya ada sedikit perbedaan.


G.  Gerakan Tari Legong
Pada motif gerak tari Legong memang bermuara kepada dasar gerak tari Gambuh, yang memang telah memiliki tata krama menari yang ketat, termuat dalam lontar Panititaling Pagambuhan

Yakni mengenai dasar-dasar tari yakni agem, posisi gerak dasar yang tergantung dari perannya, ada banyak jenis agem.

Kemudian Abah Tangkis, gerakan peralihan dari agem satu ke agem yang lainnya, ada tiga jenis Abah tangkis.

Dasar selanjutnya adalah Tandang, yakni cara berjalan dan bergeraknya si penari, dari sini akan dikenal motif gerak seperti ngelikas, nyeleog, nyelendo, nyeregseg, kemudian tandang nayog, tandang niltil, nayung dan agem nyamir.

Untuk melengkapi dikenal pula dasar tari yakni Tangkep, yang memuat seluruh dasar-dasar ekspresi, mulai dari gerakan mata, ada yang namanya dedeling, manis carengu

Kemudian gerakan leher ada yang disebut Gulu Wangsul, Ngilen, Ngurat daun, ngeliyet, ngotak bahu bahkan termasuk gerakan jemari, yaitu nyelering, girah, nredeh dan termasuk pula aturan penggunaan kipas; nyekel, nyingkel dan ngaliput.

Ciri yang sangat kuat dalam tari Legong adalah gerakan mata penarinya yang membuat tarian tersebut menjadi hidup dengan ekspresi yang sangat memukau oleh penarinya.

Struktur tari Legong secara khusus adalah pepeson, bapang, ngengkog, ngaras, pepeson muanin oleg, dan ngipuk.

Sedangkan secara umumnya terdiri dari papeson, pangawak, pengecet, dan pakaad.

Keterampilan dalam membawakan tari Legong, kesesuaiannya dengan penguasaan jalinan wiraga, wirama dan wirasa yang baik, sesuai dengan patokan agem, tandang, dan tangkep.

1.   Miles adalah tumit diputar kedalam (kanan – kiri). Gerakan ini misalnya terjadi pada pergantian posisi ngagem.
2.   Mungkah lawang adalah gerakan tari yang pertama sebagai awal dari suatu tarian. Maksud dari gerakan ini yaitu untuk membuka langse.
3.   Agem kanan adalah berat badan ada pada kaki kanan, jarak kaki kira-kira 1 genggam serta badan condong ke kanan. Tangan kanan sirang mata dan tangan kiri sirang susu.
4.   Sledet adalah gerakan mata yang dimana gerakan ini dapat dilakukan ke samping kanan atau kiri dan merupakan ekspresi pokok dalam tari Bali.
5.   Luk nerudut adalah gerakan kepala ke kanan dan ke kiri yang ditarik secara stakato.
6.   Ulap – ulap adalah posisi lengan agak menyiku dengan variasi gerak tangan seperti orang memperhatikan sesuatu.
7.   Ngejat pala adalah kecepatan dari gerakan ngotag pala
8.   Agem kiri adalah berat badan ada pada kaki kiri, jarak kaki kira-kira 1 genggam serta badan condong ke kiri. Tangan kiri sirang mata dan tangan kanan sirang susu.
9.   Ngelo adalah gerak tangan bergantian sejajar dengan pinggang dan dahi
10.       Ngenjet adalah menekankan kaki kanan atau kiri secara bergantian ke depan, tumit tidak menempel di tanah (menjinjit) dan badan agak merendah (ngeed).
11.       Nyeregseg adalah gerakan kaki dengan langkah ke samping cepat dan bisa digerakkan kesegala arah.
12.       Ngumad adalah gerakan menarik kaki yang didominit oleh gerakan tangan ke arah sudut belakang. Gerakan ini dipakai pada waktu akan ngangsel ngeteb ataupun ngumbang.
13.       Ngumbang adalah gerakan berjalan pada tari wanita dengan jatuhnya kaki menurut maat gending ataupun pukulan kajar.
14.       Milpil adalah gerakan berjalan juga, hanya ragamnya lebih halus, kadang – kadang injakan – injakan tapak kai lebih dari satu kali.
15.       Lasan megat yeh adalah sikap kaki sama dengan sregseg hanya berbeda pada arah gerakan yaitu ke sudut kanan depan.
16.       Ngepik adalah leher direbahkan ke kanan dan ke kiri.


H.  Filosofi Tari Legong
Di samping itu, nilai sakral pertunjukan Legong tersimpan di dalam gerak tarinya sendiri.

Sebelum tarian dimulai, kedua penari Legong duduk pada kursi di muka gamelan, berayun ke kiri dan ke kanan, sebagai peniruan tari kerawuhan.

Tari Legong masih erat hubungannya dengan agama, baik dari segi sejarah maupun pertunjukannya.

Dalam hal ini, sama dengan tari Sang Hyang. Nilai keagamaan dan kepercayaan yang diasosiasikan dengan tari Legong ialah kebudayaan keraton Hindu Jawa.

Kebudayaan tersebut amat berbeda sifatnya kalau dibandingkan dengan kebudayaan pra-Hindu di Bali yang ekspresinya terungkap dalam tari Sang Hyang.

Pada saat ini hubungan tari Legong dengan agama Hindu sangat beda sifatnya.

Tari Legong tidak lagi merupakan manifestasi dari leluhur, seperti halnya Sang Hyang, namun dipertunjukan untuk hiburan para leluhur. 

Dengan kata lain, tari Legong dipentaskan untuk menghibur para leluhuryang turun dari kahyangan, termasuk para raja yang hadir pada upacara odalan yang datangnya setiap 210 hari.

Seperti kesenian istana lainnya, tari Legong dijadikan suatu tradisi sebagai pameran yang mencerminkan kekayaan dan kemampuan para raja pada zaman lampau.

Para petugas istana berusaha memperoleh wanita-wanita yang paling cantik dan berbakat kemudian dilatih untuk dijadikan penari Legong, dan banyak di antaranya menjadi abdi keraton.